Malam Nishfu Sya'ban
Disusun oleh : Muhammad Abdul Basith (Mahasiswa Universitas Al Wasathiyah Yaman)
Pendahuluan
Malam Nishfu Sya'ban merupakan malam yang sangat mulia,dimana pada malam tersebut takdir Allah dicatat,amalan ummat manusia turut dilaporkan kepada Allah,dan berbagai kemuliaan lain yang berada didalamnya.
Al Imam Ibnu Hajar Al Haitami seorang ulama besar dalam madzhab Syafi'i mengatakan:
(قَوْلُهُ فَهِيَ أَفْضَلُ لَيَالِي السَّنَةِ) أَيْ: فِي حَقِّنَا لَكِنْ بَعْدَ لَيْلَةِ الْمَوْلِدِ الشَّرِيفِ وَيَلِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْإِسْرَاءِ ثُمَّ لَيْلَةُ عَرَفَةَ ثُمَّ لَيْلَةُ الْجُمُعَةِ ثُمَّ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَبْعَانَ وَأَمَّا بَقِيَّةُ اللَّيَالِي فَهِيَ مُسْتَوِيَةٌ وَاللَّيْلُ أَفْضَلُ مِنْ النَّهَارِ وَأَمَّا فِي حَقِّهِ ﷺ فَالْأَفْضَلُ لَيْلَةُ الْإِسْرَاءِ وَالْمِعْرَاجِ؛ لِأَنَّهُ رَأَى رَبَّهُ فِيهَا شَيْخُنَا
"Ucapannya, 'Maka itu adalah malam yang paling utama dalam setahun,' maksudnya dalam hak kita, tetapi setelah malam kelahiran (Maulid) yang mulia. Urutan setelahnya adalah malam Lailatul Qadar, kemudian malam Isra', lalu malam Arafah, kemudian malam Jumat, lalu malam Nishfu Sya'ban. Adapun malam-malam lainnya, semuanya setara. Malam lebih utama dibanding siang. Sedangkan dalam hak Nabi ﷺ, maka malam yang paling utama adalah malam Isra' dan Mi'raj, karena pada malam itu beliau melihat Tuhannya." [Tuhfatul Muhtaj Juz 3 Hal 462].
Dan terkait pelaporan amal ummat manusia maka terbagi menjadi tiga:
Pertama: amalan yang dilaporkan harian yaitu pada waktu sholat subuh dan ashar
Kedua: amalan manusia dilaporkan disetiap minggunya yaitu pada hari Senin dan Kamis
Ketiga: amalan manusia dilaporkan pertahunnya yaitu ketika masuk dibulan Sya'ban.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ: «قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ! قَالَ: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ».
Usamah bin Zaid meriwayatkan, ia berkata: "Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa di suatu bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya'ban!' Maka beliau bersabda, 'Itu adalah bulan yang dilupakan oleh banyak orang, terletak antara Rajab dan Ramadan. Bulan itu adalah bulan di mana amal-amal diangkat kepada Tuhan semesta alam, dan aku suka jika amalanku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.'" (HR An Nasai No 2356, Ahmad No 21753 dan disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah. Baca Fathul Bari Syarah Sahih Bukhari karya al-Hafidz Ibnu Hajar, 6/238. Dan Ibnu Hajar juga menilainya shahih)
Mengecek keshohihan Hadits Hadits tentang Nishfu Sya'ban
Kebanyakan dari para ulama atau kyai ketika menjelaskan tentang Fadhilah keutamaan malam Nishfu Sya'ban selalu membawakan hadits hadits berikut:
• Hadits pertama
وَعَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ، إِلَّا لِمُشْرِكٍ، أَوْ مُشَاحِنٍ»
Dari muadz bin Jabal beliau meriwayatkan: bersabda Rasulullah ﷺ: “Sesungguhnya Allah memperhatikan hambanya (dengan penuh rahmat) pada malam Nishfu Sya’ban, kemudian Ia akan mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan musyahin (orang munafik yang menebar kebencian antar sesama umat Islam)”.
Al Imam Al Haitsami menilai hadits tersebut dapat dipercaya dan para perawinya merupakan tsiqot.
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْكَبِيرِ وَالْأَوْسَطِ وَرِجَالُهُمَا ثِقَاتٌ
[Majma' zawaid Juz 8 Hal 65]
Bahkan ulama Wahabi pun sampai tidak mampu mendhoifkan hadits tersebut,Syaikh Albani mengatakan :
حديث صحيح، روي عن جماعة من الصحابة من طرق مختلفة يشد بعضها بعضا وهم معاذ ابن جبل وأبو ثعلبة الخشني وعبد الله بن عمرو وأبي موسى الأشعري وأبي هريرة وأبي بكر الصديق وعوف ابن مالك وعائشة.
"Hadis ini sahih, diriwayatkan dari sekelompok sahabat melalui berbagai jalur yang saling menguatkan satu sama lain. Mereka adalah Mu'adz bin Jabal, Abu Tsa'labah Al-Khusyani, Abdullah bin Amr, Abu Musa Al-Asy'ari, Abu Hurairah, Abu Bakar Ash-Shiddiq, 'Auf bin Malik, dan Aisyah." [Silsilatul Ahadits shohihah Juz 3 Hal 135]
• Hadits kedua
فَقَالَ عُثْمَانُ: إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: «إِنَّ اللهَ يَدْنُو مِنْ خَلْقِهِ فَيَغْفِرُ لِمَنِ اسْتَغْفِرَ إِلَّا لِبَغِيٍّ بِفَرْجِهَا، أَوْ لِعَشَّارٍ»
"Rasulullah bersabda: Sesungguhnya (rahmat) Allah lmendekat kepada hambanya (di malam Nishfu Sya'ban), maka mengampuni orang yang meminta ampunan, kecuali pelacur dan penarik pajak" (HR al-Thabrani dalam al-Kabir dan Ibnu 'Adi dari Utsman bin Abi al-'Ash.
Syaikh al-Munawi berkata: Perawinya terpercaya. Baca Syarah al-Jami' ash-Shaghir 1/551,Al imam Ibnu Hajar Al Haitsami juga menilai hadits tersebut Shohih dalam kitabnya Majma' zawaid 3/88.]
• Hadits ketiga
عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصديق عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ:«يَنْزِلُ اللَّهُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِكُلِّ نَفْسٍ إِلا إِنْسَانٍ فِي قَلْبِهِ شَحْنَاءٌ أَوْ مشرك بالله ».
"Rasulullah ﷺ bersabda: (Rahmat) Allah turun di malam Nishfu Sya’ban maka Allah akan mengampuni semua orang kecuali orang yang di dalam hatinya ada kebencian kepada saudaranya dan orang yang menyekutukan Allah" (al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: "Hadis ini hasan. Diriwayatkan oleh Daruquthni dalam as-Sunnah dan Ibnu Khuzaimah dalam at-Tauhid, Baca al-Amali 122)
Kesimpulan semua hadits hadits diatas
Al Imam Al Mubarokfuri berkata:
فَهَذِهِ الْأَحَادِيثُ بِمَجْمُوعِهَا حُجَّةٌ عَلَى مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ لَمْ يَثْبُتْ فِي فَضِيلَةِ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ شَيْءٌ وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ
“Hadits-hadits di atas secara keseluruhan merupakan sebuah hujjah yang membantah anggapan sebagian ulama yang berpendapat bahwa tidak ada satupun dalil kuat yang menjelaskan tentang keutamaan malam nishfu Sya’ban”. [Tuhfah al-Ahwadzi Syarh Sunan al-Tirmidzi,3/367]
SEJARAH MALAM NISHFU SYA'BAN
Terkait sejarah menghidupkan malam Nishfu Sya'ban ulama banyak menjelaskannya diantaranya Syaikh abdullah bin Shiddiq Al ghumari (seorang ulama besar asal Maroko) menyebutkan didalam kitabnya Husnul bayan fi lailati Nishfu min Sya'ban sebagai berikut:
كان بدء الاحتفال بهذه الليلة أن التابعين من أهل الشام کخالد بن معدان ومكحول ولقمان بن عامر وغيرهم كانوا يعظمونها ويجتهدون في العبادة فيها ويقال : بلغهم في ذلك آثار إسرائيلية، وعنهم أخذ الناس تعظيمها واشتهر أمرها في البلاد الإسلامية وحصل الخلاف بين العلماء فيها؛ فأما طائفةمن عبّاد أهل البصرة وغيرهم فوافقوا أهل الشام على تعظيم هذه الليلة، وأما أكثر علماء الحجاز فأنكروا ذلك وقالوا بل هو بدعة، منهم عطاء وابن أبي مليكة، وفقهاء أهل المدينة فيما نقله عنهم عباد عنهم عبد الرحمن بن زيد بن أسلم، وهذا قول أصحاب مالك وغيرهم، وروى ابن وضاح عن زيد بن أسلم قال ما أدركنا أحداً من مشيختنا ولا فقهائنا - يعني بالمدينة - يلتفتون إلى ليلة النصف من شعبان ولا يلتفتون إلى حديث مكحول ولا يرون لها فضلاً على سواها. وقيل لابن أبي مليكة إن زياداً النميري يقول إن أجر ليلة من شعبان كأجر ليلة القدر فقال : لو سمعته وبيدي عصا النصف لضربته، وكان زياد قاصاً
"Permulaan perayaan malam ini adalah ketika para tabi'in dari penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma'dan, Mak-hul, Luqman bin Amir, dan lainnya, mengagungkannya dan bersungguh-sungguh dalam ibadah pada malam itu. Dikatakan bahwa mereka menerima riwayat-riwayat dari sumber-sumber Israiliyat tentang keutamaannya. Dari mereka, orang-orang mulai mengagungkan malam tersebut hingga akhirnya menjadi terkenal di berbagai negeri Islam, yang kemudian menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Sebagian ahli ibadah dari Basrah dan lainnya sependapat dengan penduduk Syam dalam mengagungkan malam ini. Namun, mayoritas ulama Hijaz mengingkari hal tersebut dan menganggapnya sebagai bid'ah, seperti 'Atha' dan Ibnu Abi Mulaikah, serta para fuqaha Madinah sebagaimana dinukil dari mereka oleh 'Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. Ini juga merupakan pendapat para sahabat Imam Malik dan lainnya.
Ibnu Wadhdhah meriwayatkan dari Zaid bin Aslam, ia berkata, 'Kami tidak pernah mendapati seorang pun dari para ulama dan fuqaha kami di Madinah yang memberi perhatian khusus kepada malam Nishfu Sya'ban, juga tidak menganggap hadits Makhul sebagai dalil keutamaannya, dan mereka tidak melihat ada keistimewaan khusus pada malam itu dibandingkan malam-malam lainnya.'
Seseorang berkata kepada Ibnu Abi Mulaikah bahwa Ziyad An-Namiri mengatakan bahwa pahala malam Nishfu Sya'ban setara dengan pahala Lailatul Qadar. Maka Ibnu Abi Mulaikah menjawab, 'Seandainya aku mendengarnya sementara di tanganku ada tongkat, niscaya aku akan memukulnya.' Ziyad sendiri dikenal sebagai seorang penceramah." [Husnul bayan Hal 9]
Namun terdapat riwayat lain bahwa ternyata para sahabat nabi ﷺ sudah jauh lebih dahulu ingin memuliakan malam Nishfu Sya'ban tersebut.
قال الواقدي: وكان في هذه السرية مع عبد الله بن جعفر وائلة بن الاسقع وكان خروجهم من أرض الشام وهي دمشق إلى دير ابي القدس في ليلة النصف من شعبان وكان القمر زائد النور قال وأنا إلى جانب عبد الله ابن جعفر فقال لي يا ابن الاسقع ما أحسن قمر هذه الليلة وأنوره فقلت: يا ابن عم أردت رسول الله ﷺ هذه ليلة النصف من شعبان وهي ليلة مباركة عظيمة وفي هذه تكتب الأرزاق والآجال وتغفر فيها الذنوب والسيئات وكنت أدرت أن أقومها فقلت: إن سيرنا في سبيل الله خير من قيامها والله جزيل العطاء فقال صدقت
"Al-Waqidi berkata: 'Dalam ekspedisi ini, bersama Abdullah bin Ja'far terdapat Wailah bin Al-Asqa'. Mereka berangkat dari wilayah Syam, yaitu Damaskus, menuju Biara Abi Al-Quds pada malam Nishfu Sya'ban, saat bulan bercahaya penuh.
Aku (Al-Waqidi) berada di sisi Abdullah bin Ja'far, lalu ia berkata kepadaku, "Wahai Ibn Al-Asqa', betapa indahnya bulan malam ini dan betapa terangnya!"
Aku menjawab, "Wahai putra paman Rasulullah ﷺ, engkau menghendaki Rasulullah ﷺ, ini adalah malam Nishfu Sya'ban, malam yang penuh keberkahan dan agung. Pada malam ini, rezeki dan ajal ditetapkan, serta dosa-dosa dan kesalahan diampuni. Aku berniat untuk menghidupkan malam ini dengan ibadah, namun aku berpikir bahwa perjalanan kita di jalan Allah lebih utama daripada menghidupkan malam ini dalam ibadah, dan Allah adalah Dzat yang Maha Memberi dengan limpahannya." Maka Abdullah bin Ja'far berkata, "Engkau benar." [Futuh Syam Juz 1 Hal 90]
Secara jelas dalam riwayat ini para sahabat sudah punya rencana untuk melakukan amaliyah di malam Nishfu Sya’ban. Namun karena para sahabat harus berperang untuk penaklukan negeri Syam, maka mereka mendahulukan Jihad. Kendati para sahabat belum melakukannya, namun melakukan amaliyah ini bukan kategori bid’ah. Sama seperti sunah ‘azm (rencana kuat) dari Rasulullah untuk berpuasa pada hari Tasua’ (9 Muharram), namun Nabi wafat terlebih dahulu: “Sungguh jika aku masih hidup sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada hari kesembilan” (HR Muslim)
Apakah hanya 2 sahabat saja?
Ternyata yang tergabung dalam pasukan tersebut terdiri dari beberapa sahabat besar:
وكان على الخيل خمسمائة فارس منهم رجال من أهل بدر وكان من جملة من سيره مع عبد الله أبو ذر الفغاري وعبد الله بن أبي اوفي وعامر بن ربيعة وعبد الله بن أنيس وعبد الله ابن ثعلبة وعقبة بن عبد الله السلمي ووائلة بن الاسقع وسهل بن سعد وعبد الله بن بشر والسائب بن يزيد ومثل هؤلاء السادات أجمعين
"Pasukan berkuda dalam ekspedisi itu berjumlah lima ratus penunggang, di antaranya terdapat para sahabat yang ikut serta dalam Perang Badar. Di antara mereka yang turut berangkat bersama Abdullah adalah Abu Dzar Al-Ghifari, Abdullah bin Abi Awfa, ‘Amir bin Rabi’ah, Abdullah bin Anis, Abdullah bin Tsabit, ‘Uqbah bin Abdullah As-Sulami, Wailah bin Al-Asqa’, Sahl bin Sa'd, Abdullah bin Bisyir, Sa'ib bin Yazid, serta para pemuka lainnya—semoga Allah meridai mereka semua." [Futuh Syam Juz 1 Hal 90]
AWAL MULA MENGHIDUPKAN MALAM NISHFU SYA'BAN
Amaliah Malam Nishfu Sya'ban dilakukan pertama kali oleh para Tabi'in (generasi setelah Sahabat Nabi ) di Syam Syria, seperti Khalid bin Ma'dan (perawi dalam Bukhari dan Muslim), Makhul (perawi dalam Bukhari dan Muslim), Luqman bin 'Amir (al-Hafidz Ibnu Hajar menilainya 'jujur') dan sebagainya, mereka mengagungkannya dan beribadah di malam tersebut. Dari mereka inilah kemudian orang-orang mengambil keutamaan Nishfu Sya'ban. Ketika hal ini menjadi populer di berbagai Negara, maka para ulama berbeda-beda dalam menyikapinya, ada yang menerima diantaranya adalah para ulama di Bashrah (Irak).
Namun kebanyakan ulama Hijaz (Makkah dan Madinah) mengingkarinya seperti Atha', Ibnu Abi Mulaikah, dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari ulama Madinah dan pendapat beberapa ulama Malikiyah mengatakan: "Semuanya adalah bid'ah". Ulama Syam berbeda-beda dalam melakukan ibadah malam Nishfu Sya'ban. Pertama, dianjurkan dilakukan secara berjamaah di masjid-masjid. Misalnya Khalid bin Ma'dan, Luqman bin Amir dan lainnya, mereka memakai pakaian terbaiknya, memakai minyak wangi, memakai celak mata dan berada di masjid. Hal ini disetujui oleh Ishaq bin Rahuwaih (salah satu Imam Madzhab yang muktabar), dan beliau mengatakan tentang ibadah malam Nishfu Sya'ban di masjid secara berjamaah: "Ini bukan bid'ah". Dikutip oleh Harb al-Karmani dalam kitabnya al-Masail. Kedua, dimakruhkan untuk berkumpul di masjid pada malam Nishfu Sya'ban untuk shalat, mendengar cerita-cerita dan berdoa. Namun tidak dimakruhkan jika seseorang salat (sunah mutlak) sendirian di malam tersebut. Ini adalah pendapat al-Auza'i, imam ulama Syam, ahli fikih yang alim. Inilah yang paling tepat, InsyaAllah. (Syaikh al-Qasthalani dalam Mawahib al-Ladunniyah 2/259 yang mengutip dari Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma'arif 151)
Apakah penduduk Mekkah dari dulu selalu membid'ahkan amalan amalan dimalam Nishfu Sya'ban?
Jawabnya tidak,bahkan mereka justru turut memuliakannya dengan mengamalkan ibadah ibadah yang mulia. Al imam Al fakihani mengatakan:
ذِكْرُ عَمَلِ أَهْلِ مَكَّةَ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَاجْتِهَادِهِمْ فِيهَا لِفَضْلِهَا وَأَهْلُ مَكَّةَ فِيمَا مَضَى إِلَى الْيَوْمِ إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، خَرَجَ عَامَّةُ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ إِلَى الْمَسْجِدِ، فَصَلَّوْا، وَطَافُوا، وَأَحْيَوْا لَيْلَتَهُمْ حَتَّى الصَّبَاحَ بِالْقِرَاءَةِ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، حَتَّى يَخْتِمُوا الْقُرْآنَ كُلَّهُ، وَيُصَلُّوا، وَمَنْ صَلَّى مِنْهُمْ تِلْكَ اللَّيْلَةَ مِائَةَ رَكْعَةٍ يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِالْحَمْدُ، وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ عَشْرَ مَرَّاتٍ، وَأَخَذُوا مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ، فَشَرِبُوهُ، وَاغْتَسَلُوا بِهِ، وَخَبَّؤُوهُ عِنْدَهُمْ لِلْمَرْضَى، يَبْتَغُونَ بِذَلِكَ الْبَرَكَةَ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ، وَيُرْوَى فِيهِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ
"Penduduk Makkah, sejak dahulu hingga sekarang, ketika tiba malam Nishfu Sya’ban, baik laki-laki maupun perempuan, keluar menuju masjid. Mereka melaksanakan shalat, melakukan tawaf, serta menghidupkan malam tersebut hingga pagi dengan membaca Al-Qur’an di Masjidil Haram, sampai mereka menyelesaikan khatam Al-Qur’an dan melaksanakan shalat.
Di antara mereka, ada yang melaksanakan shalat sebanyak seratus rakaat, membaca Surah Al-Fatihah dan Surah Al-Ikhlas sepuluh kali dalam setiap rakaat. Mereka juga mengambil air Zamzam pada malam itu untuk diminum, mandi dengannya, serta menyimpannya sebagai obat bagi orang sakit, dengan harapan mendapatkan keberkahan pada malam tersebut. Banyak hadis yang diriwayatkan mengenai malam ini." [Akhbar Makkah Juz 3 Hal 84-85]
Keshususan Malam Nishfu Sya'ban
Syaikh Khotib Asy Syirbini Menyebutkan ada 5 keistimewaan malam Nishfu Sya'ban:
أنها مختصة بخمس خصال الأولى: قال تعالى: ﴿فيها يفرق كل أمر حكيم﴾ والثانية: فضيلة العبادة فيها، روى الزمخشري أنه ﷺ قال: «من صلى في هذه الليلة مائة ركعة أرسل الله تعالى إليه مائة ملك: ثلاثون يبشرونه بالجنة، وثلاثون يؤمنونه من عذاب النار، وثلاثون يدفعون عنه آفات الدنيا، وعشرة يدفعون عنه مكايد الشيطان» . ثالثها: نزول الرحمة قال ﷺ «إن الله يرحم أمتي في هذه الليلة بعدد شعر أغنام بني كلب» . رابعها: حصول المغفرة فيها قال ﷺ «إن الله يغفر لجميع المسلمين في تلك الليلة إلا الكاهن والساحر ومدمن الخمر وعاق والديه والمصر على الزنا» . خامسها: أنه تعالى أعطى رسول الله ﷺ في هذه الليلة تمام الشفاعة في أمته، قال الزمخشري: وذلك أنه سأل ليلة الثالث عشر من شعبان في أمته فأعطي الثلث منها ثم سأل ليلة الرابع عشر فأعطي الثلثين ثم سأل ليلة الخامس عشر فأعطي الجميع إلا من شرد عن الله شرود البعير.
"Malam ini memiliki lima keistimewaan. Pertama, Allah Ta’ala berfirman: ‘Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah’ (QS. Ad-Dukhan: 4). Kedua, keutamaan ibadah di dalamnya. Az-Zamakhsyari meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Barang siapa yang melaksanakan seratus rakaat shalat pada malam ini, Allah Ta’ala akan mengirimkan kepadanya seratus malaikat: tiga puluh malaikat memberi kabar gembira tentang surga, tiga puluh malaikat memberinya rasa aman dari azab neraka, tiga puluh malaikat menjaganya dari berbagai musibah dunia, dan sepuluh malaikat melindunginya dari tipu daya setan.’
Ketiga, turunnya rahmat. Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya Allah akan merahmati umatku pada malam ini sebanyak jumlah bulu domba Bani Kalb.’
Keempat, diperolehnya ampunan. Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh kaum Muslimin pada malam itu, kecuali dukun, penyihir, pecandu khamr, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, dan orang yang terus-menerus berzina.’
Kelima, Allah Ta’ala memberikan kepada Rasulullah ﷺ kesempurnaan syafaat bagi umatnya pada malam ini. Az-Zamakhsyari berkata: ‘Rasulullah ﷺ memohon syafaat bagi umatnya pada malam ketiga belas bulan Sya’ban, lalu Allah memberinya sepertiga bagian. Kemudian beliau memohon lagi pada malam keempat belas, lalu Allah memberinya dua pertiga bagian. Lalu beliau memohon lagi pada malam kelima belas, maka Allah memberinya keseluruhan, kecuali mereka yang lari dari Allah seperti unta liar yang lari." [As sirojul Munir Juz 3 Hal 579]
Nama nama lain untuk malam Nishfu Sya'ban
Malam Nishfu Sya'ban memiliki julukan/sebutan yang banyak oleh para ulama,Al imam fakhrurozzi (seorang ulama pakar tafsir) menyebutkan setidaknya ada 4 nama lain untuk malam Nishfu Sya'ban ini,beliau berkata:
ان لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ لَهَا أَرْبَعَةُ أَسْمَاءَ: اللَّيْلَةُ الْمُبَارَكَةُ، وَلَيْلَةُ الْبَرَاءَةِ، وَلَيْلَةُ الصَّكِّ، وَلَيْلَةُ الرَّحْمَةِ، وَقِيلَ إِنَّمَا سُمِّيَتْ بِلَيْلَةِ الْبَرَاءَةِ، وَلَيْلَةِ الصَّكِّ، لِأَنَّ الْبُنْدَارَ إِذَا اسْتَوْفَى الْخَرَاجَ مِنْ أَهْلِهِ كَتَبَ لَهُمُ الْبَرَاءَةَ، كَذَلِكَ اللَّهُ يَكْتُبُ لِعِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ الْبَرَاءَةَ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ
"Malam Nisfu Sya’ban memiliki empat nama: Malam yang Diberkahi (اللَّيْلَةُ الْمُبَارَكَةُ), Malam Pembebasan (لَيْلَةُ الْبَرَاءَةِ), Malam Ketetapan (لَيْلَةُ الصَّكِّ), dan Malam Rahmat (لَيْلَةُ الرَّحْمَةِ). Dikatakan bahwa malam ini dinamakan Malam Pembebasan dan Malam Ketetapan karena, sebagaimana seorang bendahara menuliskan surat pembebasan bagi orang-orang yang telah melunasi pajaknya, demikian pula Allah ﷻ menetapkan pembebasan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman pada malam ini." [Mafatihul Ghoib Juz 27 Hal 653]
0 comments