Cerita di warung nasi gurih
Garis kesuksesan seseorang tidaklah sama semua nya. Jika hari ini kamu belum bisa menjadi apa-apa seperti ekspektasi mu. Yaudah tidak apa-apa. Jalani terus mari dicoba kembali. Ga usah hiraukan perkataan orang-orang diluar sana. Anggap saja omongan itu angin yang berlalu.
Pertanyaan yang sering aku dengar setiap
hari. Kapan lulus?, kapan nikah?, kapan ini, kapan itu?. Iya kapan-kapan, kalau
bukan hari ini ya besok. Kalo bukan tahun ini ya tahun depan. Se-kepo itu ya
manusia dengan takdir yang telah Allah tuliskan. Allah beri kita akal untuk
berpikir, seharusnya kita pakai saja untuk berpikir apakah pertanyaan itu
membuat dia senang?, atau malah kebalikannya?
Alhamdulillah jika lawan bicara nya tipe
bodo amat, udah pasti dia gak akan mikirin kata-kata tersebut. Bagaimana dengan
dia yang langsung kepikiran?. Pasti stress kan?. Ditambah lagi dengan beban
hidup lainnya, yang bersarang di kepala.
Hidup ini di nikmati. Kita adalah peran
utama dalam cerita kita sendiri. Sedangkan yang lainnya peran pendukung dalam
cerita kita. Dan di cerita orang lain, dia peran utama nya, lalu kitalah
sebagai peran pendukung.
Setiap kali aku ketemu orang, mereka
selalu bertanya kapan lulus kuliah?. Dan setelah jawaban keluar dari mulutku,
terkesan kurang memuaskan bagi penanya itu. By the way, aku pernah cuti kuliah
karna kecelakaan yang membuat tulang pahaku sampai patah. Setelah kejadian itu,
minat aku ke kampus udah mulai menurun. Yang dulunya sering bareng-bareng sama
temen. Sekarang hanya tinggal satu-persatu. Karena sebagian nya udah lulus, disaat aku
masih belajar cara berjalan pakai kruk. Itu terjadi pada semester akhir yang
sibuk bimbingan skripsi.
Bukan aku saja yang belum selesai. Masih
ada beberapa temen ku lainnya. Tapi jadwal Konsul kami kan berbeda antar satu
sama lainnya. Itulah sebabnya jarang ketemu di kampus. Satu tahun setengah
setelah kecelakaan, aku memutuskan kembali bekerja. Dan itu pun mencari
pekerjaan yang tidak terlalu berat untuk kondisi kaki ku. Dari hari perhari aku
mencari info loker. Setelah ketemu ku daftar terus. Ada yang nge respon ada
juga yang kadang dibaca pun engga. Miris sekali dengan dunia sekarang. Mencari
kerja tidak semudah itu. Tidak diam begitu saja, aku juga beritahu temen ku
"jika ada kerja, tolong kabari aku ya".
Beberapa info lowongan ada di condongkan
sama Raihan untuk ku. Akan tetapi, kerja nya sampai malam. Disitu aku mikir,
kalau pulang nya malam aku gak berani. Posisi rumah aku di kampung. Dan suasana
kampung jam sembilan malam aja udah mulai sepi. Apalagi di atas jam sembilan
memang asli hening banget. Paling ya suara jangkrik krik krik. Beda cerita jika
ada temen satu tempat kerja tentu berani. Mamak aku pun gak bolehin, jika kerja
pulang malam. "Mending ga usah kerja" kata beliau. Yaudah masih
mencari yang bisa pulang cepat, paling lama sampai sore saja.
Beberapa hari kemudian, Raihan hubungi
aku.
"Yus, Abang aku lagi nyari orang
kerja, mau kamu?" Kata Raihan.
"Boleh, kerja apa?" Ku jawab.
Mulailah Raihan menjelaskan tentang pekerjaan itu. Dimana letak lokasi nya,
mulai kerja dari jam tujuh pagi sampai siang. Setelah Raihan jelaskan
menyangkut pekerjaan itu menurut ku cocok nih gak pulang malam. Mamak juga
pasti akan ikut setuju.
"Besok aja kita ke tempat Abang ku,
biar mereka aja yang jelaskan lebih rinci lagi" ucap Raihan.
"Okey" sambung ku di telepon.
Keesokan harinya, aku siap-siap mau ke
tempat saudara Raihan. By the way, beliau bukan Abang kandung temen ku. Beliau
saudara almarhum ayah temen ku. Tapi memang deket banget kayak Abang kandung
sendiri. Aku berangkat menunggu Raihan di mesjid agung. Aslinya mesjid agung
tuh melewati tempat kerja yang akan kami tuju. Sebab aku belum tau dimana
tempat nya, yaudah aku ke kota terus tunggu Raihan di masjid agung. Oh iya satu
lagi, Raihan ini dia perempuan bukan cowok hehe.
Aku tiba di mesjid agung, belum ada Raihan disana. Lima belas menit kemudian, baru nampak
Raihan mengendarai motor nya. "Ayok," ajak Raihan sambil pelankan
motor". Ku ikuti di belakang nya sampai ke tempat tujuan. Disana ada
sepasang suami istri sedang duduk di lesehan. Menikmati beberapa cemilan yang
ada di atas meja. Raihan menghampiri mereka dan aku pun mengikuti nya.
"Gimana Raihan, sehat?" Sapa
Abang nya.
"Sehat bg" jawab Raihan.
"Duduk dulu, mau minum apa?, kopi?
"Kata Abang nya nawarin sambil bangun dari posisi duduk.
"Boleh bg" ucap Raihan sambil
duduk. Dan aku duduk di samping dia.
"Temen Raihan kopi juga?", di
tanya kembali.
"Ga usah bg" kataku, karna aku
gak terlalu suka kopi. Dari yang aku lihat mereka ini ramah, enak nih kalo
punya bos kayak gitu. Gak akan marah-marah sama karyawan hehe.
Bg Angga kembali sambil bawa segelas kopi. Beliau duduk kembali di tempat semula.
"Bg ini Yusra temen Raihan
yang mau kerja disini" Raihan memperkenalkan aku kepada sepasang suami
istri di depan kami. Aku senyum doang belum waktunya ngomong.
"Oh Yusra, iya beginilah keseharian
kami disini. Kerja nya santai, ini juga baru buka beberapa Minggu yang lalu.
Ini istri Abang lagi hamil kan capek mondar-mandir melayani pelanggan. Makanya
Abang nyari orang kerja biar ada yang bantuin beliau" Ujar bg Angga
menjelaskan panjang lebar.
"Makan dek" ucap istri bg Angga menawarkan cemilan.
"Iya ka" jawab aku dan Raihan
barengan.
Beberapa menit kemudian, datang dua
orang anak perempuan lebih muda dari kami menghampiri tempat kami duduk. Yah
ternyata salah satu nya ialah adik nya Raihan. Nama nya Fitri. Dia membawa
temen nya kesini juga dengan tujuan ingin melamar kerja.
"Ka ini temen ku mau kerja"
ucap Fitri sambil duduk di samping ku.
"Udah duluan kakak hehe" ku
jawab obrolan Fitri
"Owalah" jawab Fitri. Teman
Fitri yang di samping nya hanya diam saja dari tadi. Ternyata temen Fitri udah
punya satu kerjaan dan itu shift dari sore sampai malam. Jadi dia mencari
tambahan satu kerja lagi untuk mengisi waktu luang di pagi hari.
"Adek kuliah juga?" Aku mulai
bertanya sama temen Fitri.
"Engga ka" jawab nya. Terus
aku hanya ber'oh' saja.
"Makan dek" Karna bg Angga
sama istrinya lagi masuk ke dalam sebentar, jadi aku menawarkan cemilan yang di atas
meja untuk mereka berdua. Udah kayak tuan rumah aja aku wkwkwk.
"Iya ka" sahut mereka berdua.
Setelah itu bg Angga keluar dari dalam dan melihat kedatangan Fitri serta teman nya. Beliau bertanya maksud kedatangan mereka kesini. Lalu Fitri menjawab seperti yang dia ucapkan padaku tadi. Selang beberapa menit kemudian, mereka berdua pamit pulang dan tak lama setelah kepergian mereka kami juga izin pulang sama bg Angga.
Di rumah
Matahari sudah menyembunyikan dirinya. Itu pertanda bahwa hari telah berganti menjadi malam. Selesai sholat Maghrib, aku mengirim pesan kepada istri bg Angga.
"Assalamu'alaikum ka, ini Yusra temen nya Raihan" perkenalan dulu sebab belum di save nomor aku. Tadi di warung Raihan yang minta nomor beliau.
"Wa'alaikumussalam dek, gimana dek jadi kerja?" Langsung di balas.
"Jadi ka" ku jawab pesan nya.
"Adek jaga stand aja atau sekalian dengan cuci piring?, kalo jaga stand aja gaji nya segini di tambah cuci piring segini (gaji nya aku privasi aja ya, inti nya lebih rendah dikit dari kerja ku dulu waktu jadi baby sitter)
"Dua-duanya aja ka" ku balas.
"Alhamdulillah dek, besok udah bisa di mulai ya dek" kata beliau.
Ku jawab "iya ka". Percakapan di wa selesai. Aku langsung menyiapkan keperluan untuk pergi kerja besok. Biar ga repot makanya aku siapkan terus di malam nya.
Keesokan harinya, aku berangkat jam setengah tujuh lebih dari rumah. Harus sampai di tempat kerja jam tujuh pagi. Jarak rumah aku ke tempat kerja hanya dua puluh menit. Alhamdulillah gak jauh. Berangkat pagi karna pagi-pagi udah ramai yang beli. Sebetulnya warung nya dibuka jam enam pagi. Dan aku disuruh berangkat jam tujuh sama kakak itu.
Dulu aku paling menghindari kerja di warung, karna kebanyakan pelanggan nya pasti laki-laki. Apalagi ini warung kopi ya udah pasti dominan laki-laki. Urusan kopi itu bagian bg Angga yang ngurus. Sedangkan aku bagian jual nasi dan layani yang makan disitu. Dan bagian masak ya istri bg Angga. Namanya jualan kita kan harus ramah sama pelanggan. Itu aku terapkan selama kerja disini. Selalu pasang senyum ketika ada pelanggan. Ramah juga.
Hari terus berlalu, aku juga kerja seperti biasa nya. Ada pelanggan yang mengira aku masih anak sekolah SMP wkwkwk. Wajar dikira begitu sebab badan ku kecil dan pendek.
Ada juga pelanggan bilang aku orang Papua, sampai di tanyain "dek, Papua dimana nya?"
Aku jawab "Papua ya di Papua"
Abang itu nanya ulang "bukan, adek tinggal di Papua di bagian mana?"
"Enggak, kata siapa orang Papua?, aku orang Samatiga bg" ku jawab. Heran juga aku bisa-bisanya malah dikira orang jauh.
"Itu temen Abang yang kemarin makan disini bilang" katanya.
"Oh salah itu" kataku. Pantesan pas waktu mereka makan berdua di warung. Temen nya nanya "di Papua dimana nya?" waktu aku anterin nasi ke meja mereka. Aku gak jawab karna ku pikir beliau nanya sama temen nya. Yang ku lihat mereka lagi asik ngobrol berdua. Dan ternyata pertanyaan itu untuk aku. Waktu itu aku langsung bergegas ke depan karna ada pelanggan lain yang beli. Dan mereka pun gak bertanya lagi sampai mereka selesai bayar.
Beberapa hari kemudian aku mulai menghitung cowok yang minta nomor hp ku disana. Jumlah nya ada empat orang. Satu pun engga aku kasih. Sampai salah satunya ada yang bilang aku sombong gitu. Yang minta nya pun bapak-bapak, ada juga yang gigi nya udh ompong. Gak mau ku kasih takut nya suami orang. Pernah aku nanya waktu cowok ketiga itu minta "untuk apa nomor ku?" Di jawab sama bapak sebelahnya "gabut aja bisa ngobrol pas malam". Dalam hati aku istighfar, aku gak gabut orang nya. Malam, ku isi waktuku dengan baca buku. Daripada telponan sama cowok asing kecuali jika suamiku baru mau.
Itulah salah satu alasan ku menghindari kerja di warung. Risih jika ketemu cowok yang genit. Cuma karna belum dapat kerja yang lain yaudah aku ambil aja dulu daripada nganggur di rumah. Alhamdulillah aman mereka gak pernah pegang-pegang, cuma ngomong aja gitu kayak biasa. Kalau di pegang udah dari lama aku pilih berhenti kerja.
Selanjutnya aku bekerja seperti hari biasanya. Orang yang minta no aku pun udah jarang singgah di warung. Ada satu yang masih tetap beli nasi disini. Aku biasa aja ya sama cara ku melayani dia dengan orang lain.
Bg Angga dan istrinya juga baik apapun yang mau makan aja, gak di larang sama sekali. Jatah makan siang memang di tanggung di warung.
Tiga bulan kemudian
Namanya warung kadang ramai, kadang sepi. Waktu sepi aku sangat bosan gak ada temen ngobrol. Ada kakak tetangga sebelah namanya kak Busyra. Selama aku kerja disitu ya kak Busyra temen ngobrol aku. Kalau beliau ada duduk di depan jaga warung sembako. Sefrekuesi lah kami, usia nya pun selisih setahun doang. Orang nya asik, gak sombong lagi dan beliau udah nikah.
Setiap hari aku lihat bg Angga baca buku di warung pas lagi sepi pelanggan. Buku yang di baca sama beliau tentang Sirah Nabawiyah. Wah jiwa membaca ku meronta-ronta pengen baca juga. Mumpung sepi biar ga bosan hanya duduk main hp doang di warung. Banyak main hp bikin mata perih. Ada hari-hari tertentu bg Angga gak ada di warung karna ada jadwal dinas di bandara. Dan bukunya duduk rapi di rak dalam warung. Aku cuma melihat saja setiap bolak-balik lewati rak tersebut. Mau ambil untuk ku baca gak mau karna belum minta izin sama beliau. Jadi hanya ngomong di hati aja pengen pinjam untuk baca pas lagi kerja di warung.
Suatu hari pas bg Angga ada di warung. Beliau duduk di meja dekat pojokan belakang. Dengan satu buku dan segelas kopi di depan nya.
"Yusra suka baca buku?" Tanya bg Angga saat aku membawa piring kotor ke belakang.
"Suka bg" langkah kaki ku berhenti sejenak.
"Kalo suka besok abang bawa. Di rumah banyak buku udah kayak perpustakaan pribadi. Karena kalau lagi bepergian Abang selalu pulang nya beli buku. Oleh-oleh makanan kan langsung habis tapi kalo buku gak, masih bisa di simpan." Kata bg Angga.
"Ohhh boleh bg bawa aja" ku jawab sambil melangkahkan kaki ke belakang terus. Sebab percakapan telah selesai. Ya Allah suara hati ku di dengar. Aku gak pernah ngucapin apa-apa tentang buku. Tiba-tiba bg Angga sendiri yang nawarin.
Hobiku juga membaca. Tapi aku tipe pembaca yang tidak suka mengoleksi. Di rumah ada empat buku yang pernah ku beli dulu. Buku pertama kali ku beli Atomic habits pas lagi viral nya, saking penasarannya aku beli karna di perpustakaan daerah yang sering ku datangi gak ketemu buku itu. Tiga buku lainnya tentang islami. Setelah itu sampai sekarang gak beli buku lagi. Alasan nya gak suka banyak barang di rumah, lalu isi kertas buku lama-lama berubah jadi kuning. Semua buku udah ku sampul cover nya. Rencana mau ku sampul mati terus kan sudah selesai ku baca semua isinya. Keluarga di rumah gak ada yang hobinya sama kayak aku. Jadi lebih baik di sampul aja dengan isinya sekalian.
Keesokan harinya, bg Angga beneran membawa satu buku untuk aku baca. Buku ini berjudul "atturuq hukmiyah fii siyasati syar'iyyah" yang ditulis oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Isi buku ini menceritakan tentang perkara hukum. Sangat cocok dibaca untuk anak-anak jurusan hukum. Ketika bg Angga berikan buku ini sama aku, beliau bilang "buku ini pernah di pinjam sama anak mahasiswa hukum, baru di kembalikan". Aku hanya ber'oh' saja.
Setelah bg Angga pergi masuk ke dalam warung, aku mulai membuka halaman pertama nya. Mumpung warung lagi sepi jadi kegiatan aku sekarang ya baca buku. Pas ada pembeli aku jeda sejenak dulu baca nya. Saat aku membaca buku ini, banyak banget kisah-kisah yang belum pernah aku dengar. Soal sejarah aku masih kurang ilmunya. Dari dulu waktu sekolah memang gak suka pelajaran sejarah. Pengen pulang cepat rasanya hehe.
Ini buku hukum, sudah jelas banyak kisah tentang qadi terdahulu di masa Rasulullah dan para sahabatnya. Semakin aku baca, semakin membuat ku tertarik dengan isi selanjutnya. Isi buku ini bisa kita terapkan ketika mendapatkan perkara yang sama di kehidupan sehari-hari kita. Cara bagaimana Rasulullah memutuskan suatu perkara yang sedang terjadi sungguh bijaksana. Tak hanya Rasulullah saja para sahabat beliau juga bijak dalam memutuskan suatu perkara.
Di selang-selang waktu bekerja, aku selalu baca buku sambil menunggu pembeli datang. Setiap hari sekarang begitu. Alhamdulillah dapat bos baik hati. Main hp boleh, baca buku juga boleh. Pokoknya ga ada larangan, kerja nya pun santai.
Hari berikutnya aku melihat ada dua anak perempuan, sering bermain ke tempat ka Busyra. Maklum sekolah kan lagi libur. Mereka mengobrol santai seperti nya sudah lama kenal. Aku sudah dekat sama ka Busyra. Jadi kalau ka Busyra yang jaga warung sembako otomatis kami akan duduk bareng di meja depan. Di saat ada kak Busyra di depan, aku gak baca buku. Sebab lagi ada teman ngobrol hehe. Baca bukunya pas lagi sendirian aja.
Dari situ kedua anak perempuan tadi juga mulai akrab sama aku. Mereka tau namaku dan aku pun sebaliknya tau nama mereka. Anak perempuan yang tinggi namanya Syifa, dia sekolah di SD Percontohan kelas 5. Satu lagi anak perempuan pendek dikit dari Syifa, namanya Ica. Dia sekarang kelas 4 sekolah di Mis Nurul Falah. Salah satu orangtua Ica ini asli orang Padang. Menikah dengan orang Aceh. Dan sudah menetap disini.
Syifa orang nya kalem, agak malu-malu. Kalau Ica orang nya usil. Kedua nya sama-sama ramah. Semakin hari, aku dan mereka makin dekat. Udah kayak kakak dan adik sendiri. Setiap hari mereka ke warung. Kadang mereka ke meja aku duduk. Mengobrol dengan aku waktu aku lagi lipat kertas bungkus nasi.
"Ka kami bantu boleh?" Tanya Ica.
"Boleh" ku jawab sambil berikan beberapa kertas bungkus nasi untuk di lipat.
"Kemarin kami kerja di tempat ka Busyra, hari ini kami kerja di tempat kakak" ujar Ica.
"Iya ka, kami di gaji sama Abang (suami ka Busyra)" sambung Syifa.
"Wah, rajin kali kalian" kataku apresiasi mereka. "Emang di gaji berapa?" Lanjut ku nanya.
"Iya belum di kasih ka" jawab Ica.
Selama mereka duduk di warung, banyak banget mereka ngomong. Ada aja pembahasan nya. Terutama Ica super kepo banget dia. Walaupun ada pembeli dia tetap ngajak aku ngomong. Waktu aku lagi layani pembeli cowok bungkus nasi.
"Ka aku ada pesan barang di shopee" Ica ngomong berdiri di sebelah kanan ku, sebelah kiri ku cowok yang beli nasi.
"Barang apa itu?" Tanya ku sambil tarok lauk di nasi.
"Senkir" jawab Ica semangat.
"Senkir?" Ku ulang nanya sambil mikir di kepala senkir itu apa. "Skincare" ucap ku meluruskan ucapan Ica.
"Nah iya itu ka" kata Ica membenarkan.
"Senkir hhhhh" ku ulangi kata-kata nya sambil ketawa. Dan pembeli di samping ku juga ikutan ketawa mendengar obrolan kami.
"Iya kan ga tau tadi ka" ujar Ica.
Jika Ica berada di samping aku. Terus dimana Syifa?. Syifa masih duduk manis di meja kasir. Dia lagi lap daun pisang yang sudah aku potong-potong. Setelah pembeli pergi aku kembali duduk dan di ikuti Ica juga. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas. Dan itu waktunya mereka pamit pulang sama aku. Sebelum mereka pulang aku kasih sesuatu untuk mereka.
"Ini untuk jajan" ucap ku ngasih ke mereka berdua.
"Wah, kerja sama ka Yusra langsung di kasih gaji" ucap Ica histeris membuat aku ketawa.
"Besok kami kerja lagi ya sama kakak" lanjut nya.
"Eh" sontak aku dengar nya. "Kalau mau di gaji bilang sama bos kakak bukan sama kakak" kata ku. Pasalnya aku hanya memberikan sedikit untuk jajan saja. Dan mereka pun senang sekali walau gak seberapa gitu.
"Hehe" mereka ketawa. "Makasih ya ka" ucap mereka berdua. Mereka langsung pamit ke rumah masing-masing. Dan aku pun mulai beres-beres karena bentar lagi waktunya tutup.
Beberapa hari kemudian, Ica datang sendiri ke tempat aku kerja. Katanya Syifa lagi cuci piring waktu di jemput sama Ica. Makanya gak pergi barengan.
"Ka" panggil Ica, langsung ku lihat ke arahnya. "Kami ada hadiah untuk kakak" lanjut nya.
"Apa itu?" Ku tanya
"Taraaaa, ini untuk kakak" dia menyodorkan hadiah yang barusan di sembunyikan di belakang nya.
"Aaaaaaaa makasihhh, serius ini untuk kakak?" Ucap ku terharu tiba-tiba di kasih hadiah sama anak-anak baru kenal beberapa hari.
"Iya ka,, padahal kemarin mau kasih tapi kakak gak datang waktu aku kesini".
"Oh iya kemarin libur karna istri nya bos sakit, jadi gak buka warung deh" ku jawab.
"Makasih ya, senang banget kakak" ujar ku sambil meluk hadiah nya.
"Ka, aku pulang dulu ya nanti datang lagi bareng Syifa" ternyata Ica datang sepagi ini hanya untuk kasih hadiah itu.
"Okeyy" ku jawab
Satu jam kemudian, dia datang kembali bersama temen nya. Siapa lagi ya jelas Syifa lah.
"Haiii" ku sapa mereka. Mereka bales melambai sambil tersenyum manis. Aku suruh mereka ambil kursi untuk duduk di depan ku. Kasian juga kalau ku biarkan berdiri doang. Bisa-bisa pegal itu kaki.
"Nanti kita foto bareng ya" ajak ku, menunggu sepi dulu.
"Iya ka" mereka manut aja.
Waktu udah mulai sepi, aku mengambil hadiah yang di kasih sama Ica. Hadiah nya tadi ku simpan di dalam laci. Terus kami berfoto bareng deh, cekrekk.
![]() |
| Hadiah dari mereka |
Sekian, terima kasih sudah dibaca



