Tanya jawab mengenai hal-hal ghoib, orang tua, dan percintaan
- Membaca Ayat-ayat Ruqyah: Beberapa ayat Al-Qur'an seperti Ayat Kursi (Al-Baqarah: 255), Surat Al-Fatihah, dan Surat Al-Ikhlas dapat dijadikan sebagai Ruqyah untuk memberikan perlindungan.
- Membaca Doa Perlindungan: Doa-do seperti Ayat Kursi, Surat Al-Falaq, dan Surat An-Naas dapat dijadikan sebagai doa perlindungan dari sihir dan pengaruh negatif lainnya.
- Berlindung Dengan Istighfar dan Taubat: Memperbanyak istighfar (meminta ampunan) dan taubat kepada Allah SWT juga dianggap sebagai cara untuk melindungi diri dari pengaruh sihir.
Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Dalam Islam, hubungan antara pria dan wanita di luar ikatan pernikahan dianggap sebagai perbuatan yang tidak diperkenankan. Hal ini karena keintiman antara pria dan wanita dilakukan dalam kerangka pernikahan untuk melindungi keduanya dari tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama, seperti zina.
Zina merujuk kepada hubungan seksual di luar pernikahan yang dilarang secara tegas dalam Islam. Dalam Al-Qur'an Surah Al-Israa ayat 32, Allah SWT berfirman, "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang sangat keji dan suatu jalan yang buruk."
Pacaran dalam pengertian barat, yaitu berkencan secara eksklusif dengan lawan jenis tanpa ikatan pernikahan, juga dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam. Namun, penting untuk dipahami bahwa ada perbedaan antara berkencan dan proses taaruf dalam Islam. Taaruf merupakan proses pendekatan antara calon suami dan istri dengan pengawasan yang sesuai dengan tata cara Islam.
Dalil dalam Islam yang mengatur hubungan antara pria dan wanita adalah agar menjaga kehormatan dan martabat keduanya. Dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda, "Tiap-tiap sesuatu yang tidak boleh dihalalkan zina, maka pasti tidak boleh dihalalkan pacaran."
Oleh karena itu, sebagai umat Muslim, penting untuk menghindari praktek-praktek yang dapat membawa pada tindakan zina, termasuk pacaran dalam pengertian yang melanggar aturan agama. Sebagai gantinya, Islam menganjurkan untuk menjalani hubungan yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan menghormati batasan yang telah ditetapkan.
Wallahu A'lam Bissowab
12. Barangkali ada materi ttg istighfar bu
JAWABAN :
Istighfar dalam Islam merujuk pada doa atau permohonan maaf kepada Allah SWT atas dosa-dosa dan pelanggaran yang dilakukan oleh seseorang. Istighfar merupakan bagian penting dari ibadah umat Islam karena merupakan cara untuk membersihkan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah.
Istighfar berasal dari kata Arab "istaghfara", yang artinya adalah meminta pengampunan. Allah SWT mencintai hamba-Nya yang selalu beristighfar karena merupakan tanda kerendahan hati, penyesalan, dan keinginan untuk bertaubat.
Berikut beberapa ayat Al-Qur'an terkait dengan istighfar:
1. "Dan bersungguh-sungguhlah kamu memohonkan ampunan kepada Tuhanmu, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang, Maha Pengasih." (Surah Hud, Ayat 90)
2. "Katakanlah: "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."" (Surah Az-Zumar, Ayat 53)
3. "Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." (Surah An-Nur, Ayat 31)
4. "Tidak lah bertakwa (menjalankan perintah Allah) orang-orang yang melakukan perbuatan yang keji sehingga tiba saat mati kepada salah seorang dari mereka, lalu ia berkata: "Ya Tuhan, kembalikanlah aku, agar aku dapat bekerja kecuali sedikit saja."" (Surah Al-Mu’minun, Ayat 99-100)
Selain ayat-ayat di atas, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga mengajarkan umatnya untuk senantiasa beristighfar. Hadits Rasulullah yang terkenal mengenai istighfar adalah:
"Demi Allah, sungguh aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat pada-Nya lebih dari tujuh puluh kali sehari." (HR. Al-Bukhari)
Selain itu, istighfar juga memiliki banyak manfaat, antara lain:
- Membersihkan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan di masa lalu.
- Mendekatkan diri kepada Allah SWT.
- Menghilangkan keraguan dan ketakutan dalam diri seseorang.
- Menambah keberkahan dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, sangat penting bagi umat Islam untuk senantiasa beristighfar dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk rasa syukur, penyesalan, dan taat kepada Allah SWT. Beristighfar tidak hanya dilakukan ketika seseorang merasa berdosa, tetapi juga sebagai bentuk ibadah yang akan mendatangkan banyak kebaikan bagi kehidupan dunia maupun akhirat.
Wallahu A'lam Bissowab
13. Kalo kita membicarakan orang lain, yang di bicarakan itu kenyataan/fakta apa bisa disebut gibah?
JAWABAN :
Menurut syariat Islam, membicarakan orang lain tentang hal-hal yang negatif atau merendahkan martabatnya tanpa alasan yang dibenarkan disebut dengan ghibah (bergosip atau mencela). Ghibah termasuk dalam dosa besar dan dilarang dalam agama Islam. Dalil-dalil yang menjelaskan tentang larangan ghibah antara lain:
1. Firman Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:
"Dan janganlah sebagian kamu mencela sebagian yang lain. Adakah salah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang."
2. Hadis riwayat Muslim:
Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bersabda, "Apakah kamu mengetahui apa ghibah itu?" Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Ghibah adalah engkau berkata terhadap saudaramu sesuatu yang tidak disukainya." (HR. Muslim).
Berdasarkan dalil-dalil tersebut, ghibah dijelaskan sebagai suatu bentuk perbuatan yang merugikan, merendahkan martabat, atau mencela orang lain secara tidak benar. Hal ini mencakup menyebarkan informasi negatif atau mencela seseorang di belakangnya.
Namun, terdapat pengecualian dalam hal ghibah jika tujuannya adalah untuk memberikan nasehat atau mencegah kemungkaran yang lebih besar, seperti menyebutkan kekurangan seseorang kepada pihak yang berwenang untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam hal ini, membicarakan orang tersebut dianggap sebagai amar ma'ruf nahi mungkar (menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran), bukan sebagai ghibah.
Jadi, penting untuk selalu memperhatikan dan memperbaiki ucapan dan perbuatan kita terhadap orang lain, serta berhati-hati agar tidak terjerumus dalam perbuatan ghibah yang dilarang dalam Islam.
Wallahu A'lam Bissowab
14. Kenapa masih banyak anak pondok yang pacaran???
JAWABAN :
Masalah pacaran di kalangan anak pondok pesantren bisa menjadi perhatian serius dan kompleks. Beberapa faktor yang mungkin menyebabkan fenomena ini antara lain pengaruh lingkungan, kurangnya pemahaman terhadap ajaran agama, dan perubahan nilai-nilai sosial masyarakat.
Menurut syariat Islam, pacaran atau hubungan yang tidak diatur secara syar'i antara pria dan wanita diluar ikatan pernikahan dilarang keras karena bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam yang menekankan pada kesucian, perlindungan diri, dan menjaga kehormatan.
1. Al-Qur'an dan Hadis tentang Pacaran:
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang sangat keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Israa: 32)
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga bersabda, "Barangsiapa di antara kalian yang sanggup memberikan jaminan untuk menjaga kemaluannya (dari perbuatan haram), maka hendaklah ia melakukannya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
2. Penyebab Pacaran di Kalangan Anak Pondok Pesantren:
Beberapa faktor yang mungkin menyebabkan masih banyak anak pondok pesantren yang terlibat dalam pacaran antara lain:
- Kurangnya pemahaman yang benar terhadap ajaran agama dan nilai-nilai Islam yang seharusnya mengatur hubungan antara pria dan wanita.
- Pengaruh lingkungan di luar pondok pesantren yang mungkin memperkenalkan budaya atau norma-norma yang tidak sejalan dengan ajaran agama.
- Kurangnya pengawasan dan pembinaan yang tepat dari pihak pondok pesantren terhadap aktivitas sehari-hari anak-anak pondok.
- Perubahan pola pikir generasi muda yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan kemajuan komunikasi yang memudahkan terjadinya interaksi antara lawan jenis.
3. Solusi Menurut Syariat Islam:
Untuk mengatasi masalah pacaran di kalangan anak pondok pesantren, beberapa langkah yang dapat diambil antara lain:
- Meningkatkan pemahaman akan ajaran agama Islam yang benar dan nilai-nilai moral yang harus dijunjung tinggi.
- Meningkatkan pendidikan agama dan akhlak yang seimbang antara ilmu agama dan ilmu umum.
- Meningkatkan disiplin dan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak pondok pesantren.
- Mendorong komunikasi terbuka antara pengasuh dan anak-anak pondok pesantren untuk mengetahui dan mengatasi masalah yang mungkin muncul.
- Memperkuat kesadaran akan bahaya pacaran dan pentingnya menjaga kesucian serta menjauhi perbuatan zina.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Hendaklah kamu menikahi siapapun yang punya agama, niscaya kamu berhasil. Jika tidak, hendaknya kamu celaka.” (HR. At-Tirmidzi)
Dengan meningkatkan pemahaman agama, meningkatkan komunikasi yang baik, serta meningkatkan pengawasan dan pendidikan di pondok pesantren, diharapkan fenomena pacaran di kalangan anak pondok pesantren dapat diminimalisir dan nilai-nilai agama dapat diterapkan dengan baik dalam kehidupan mereka. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk dan kekuatan kepada kita semua untuk melangkah ke arah yang lebih baik.
Wallahu A'lam BissowabB
15. Bro kan kalo menceritakan dosa di masa lalu yg pernah di buat kan ga boleh. Terus kalo dia nya minta bilang sumpah/sumpah demi tuhan gimana tu?
JAWABAN :
Dalam syariat Islam, menceritakan dosa-dosa yang dilakukan di masa lalu sebaiknya dihindari karena hal itu bisa menimbulkan fitnah, memperburuk reputasi seseorang, dan menyebabkan rasa malu. Ada beberapa dalil yang mengatur hal ini dalam Islam. Pertama, hadis yang menyatakan "Barang siapa menutupi aib seorang muslim di dunia, niscaya Allah akan menutupi aibnya di akhirat" (HR Muslim). Kedua, Surah Al-Hujurat ayat 12 yang artinya "Hindarilah kebanyakan prasangka karena sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari keburukan orang dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Maka bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang".
Namun, dalam situasi tertentu dimana menceritakan dosa di masa lalu diperlukan, misalnya sebagai pengajaran atau untuk meminta maaf, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, seseorang sebaiknya melihat niat di balik menceritakan dosa tersebut. Jika niatnya baik dan tidak bermaksud untuk merugikan orang lain, menceritakan dosa tersebut dapat dianggap sebagai bentuk taubat dan kesungguhan untuk memperbaiki diri.
Kedua, terkait dengan sumpah demi Tuhan, Islam mengajarkan agar seseorang tidak sembarangan dalam mengucapkan sumpah. Sumpah demi Tuhan sebaiknya tidak diucapkan tanpa alasan yang jelas dan penting. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Quran, "Janganlah kamu menjadikan sumpah itu sebagai tipuan di antara kamu" (Surah Al-Baqarah: 224). Oleh karena itu, sebaiknya untuk menghindari sumpah demi Tuhan kecuali dalam situasi yang memerlukan dan benar-benar penting.
Jika seseorang merasa terdorong untuk memberikan penegasan atau kepastian terkait dengan suatu pernyataan atau cerita, sebaiknya ia mengucapkan kalimat seperti "Wallahu A'lam" yang artinya "Allah lebih mengetahui" atau "Insya Allah" yang artinya "jika Allah menghendaki". Dengan demikian, seseorang dapat memberikan kepastian tanpa harus mengucapkan sumpah yang tidak perlu.
Dalam Islam, taubat adalah pintu keampunan dan rahmat Allah SWT. Seorang Muslim yang melakukan dosa di masa lalu dianjurkan untuk bertaubat dengan sungguh-sungguh, meninggalkan dosa tersebut, menyesali perbuatannya, dan berusaha untuk tidak mengulanginya. Allah SWT Maha Pengampun dan Maha Penyayang, dan Dia akan menerima taubat hamba-Nya yang datang kepada-Nya dengan tulus.
Dengan melakukan taubat yang sebenar-benarnya, seseorang dapat menghapus dosa-dosanya di masa lalu dan memulai hidup yang baru dengan tekad yang kuat untuk tidak mengulangi dosa tersebut. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran, "Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (Surah Az-Zumar: 53).
Jadi, dalam menjalani kehidupan sehari-hari, sebaiknya kita selalu berusaha untuk memperbaiki diri, bertaubat atas dosa-dosa yang pernah kita lakukan di masa lalu, dan menjauhi segala hal yang dapat mendekatkan kita kepada dosa. Dengan taubat yang tulus dan niat yang baik, in syaa Allah Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa kita dan memberkahi hidup kita di dunia maupun di akhirat.
Wallahu A'lam Bissowab
16. Assalamualaikum,maaf mau nanya.bgaimna sih cara nolak cowok yg ngajak pacaran,tapi cara nolaknya itu dengan sopan dlm agama?
JAWABAN :
Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Berikut adalah cara untuk menolak pendekatan yang tidak diinginkan dari seorang cowok yang mengajak pacaran dengan sopan dalam konteks syariat Islam:
1. Jelaskan Posisimu: Tunjukkan dengan tegas dan sopan bahwa kamu berkomitmen untuk menjalani prinsip-prinsip agama Islam dalam hubungan antara pria dan wanita. Katakan dengan tegas bahwa kamu mengutamakan pendekatan yang halal dan sesuai dengan ajaran agama.
2. Jaga Sikap dan Tutur Kata: Sampaikan penolakanmu dengan sikap yang sopan dan tegas tanpa perlu menggunakan bahasa atau sikap yang menyinggung perasaannya. Ingatlah untuk tetap menghormati dirinya sebagai seorang Muslim.
3. Rujukan kepada Ajaran Islam: Dalam menjelaskan alasannya menolak ajakan pacaran, kamu bisa merujuk kepada ajaran Islam yang menekankan pentingnya menjaga hubungan yang halal antara pria dan wanita. Sebagai Muslim, kita diberikan pedoman agar tidak terjebak dalam hubungan yang tidak sesuai dengan syariat.
4. Mengutamakan Komunikasi yang Baik: Berikan penjelasan yang jelas dan lugas mengenai alasannya menolak ajakan tersebut. Jika memungkinkan, diskusikan secara dewasa dan jelas agar pihak cowok dapat memahami dan menghormati keputusanmu.
Salah satu dalil yang bisa menjadi landasan penolakan terhadap ajakan pacaran adalah surat An-Nur ayat 30-31 yang berkaitan dengan larangan zina dan pergaulan bebas antara pria dan wanita. Allah berfirman, "Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan jangan menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya."
Dalam ayat tersebut, Allah menegaskan tentang pentingnya menjaga diri dari pergaulan bebas dan membatasi interaksi antara pria dan wanita semata-mata untuk kebaikan dan kehormatan keduanya. Oleh karena itu, menolak ajakan pacaran yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama adalah tindakan yang benar dan dianjurkan dalam Islam.
Wallahu A'lam Bissowab
0 comments